Perkumpulan Terapi Bermain Indonesia gelar Play Therapy Indonesian Conference 2017 – The Healing Power of Play

Anak merupakan karunia yang terbesar bagi keluarga, agama, bangsa, dan negara, dan juga merupakan harapan sebuah keluarga.  Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah  masa depan  bangsa dan generasi penerus cita-cita bagi kemajuan suatu bangsa. Sepertiga dari penduduk Indonesia merupakan anak-anak. Mereka adalah generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan anak dan mempersiapkan masa depan bangsa yang lebih baik.

Pemenuhan kebutuhan ini akan membentuk anak tumbuh menjadi manusia berkualitas. Sebaliknya jika kebutuhan anak tidak terpenuhi, ini  akan menurunkan kualitas hidup anak atau sebagian dari mereka akan menimbulkan masalah bagi keluarga, masyarakat, maupun negara.

Perwujudan anak-anak sebagai generasi muda yang berkualitas merupakan salah satu upaya memperkuat kemampuan daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi, dan merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam mengedepankan pembangunan sumber daya manusia (SDM) pada umumnya.

Kami menyelenggarakan Play Therapy Indonesia Conference 2017 ini yang bertema “ The Healing Power of Play” untuk meningkatkan kesadaran pentingnya bermain mendorong Gerakan Anak Indonesia Bermain untuk kesehatan Emosi, Mental, Sosial dan Perilaku Anak yang lebih Baik. Hal ini didasari atas temuan dimana banyak orang tidak menyadari bahwa bermain merupakan kebutuhan mendasar anak, sesuai konvensi PBB tentang Hak Anak-anak.

Bermain bagi anak adalah bagian penting dari perkembangan emosi yang sehat. Anak-anak menggunakan permainan untuk melepaskan emosi, bekerja melalui perasaan, dan memahami dunia mereka dengan lebih baik dengan bermain serta bertindak dalam situasi yang dapat mereka kontrol.  Dalam perjalanan mereka untuk tumbuh dewasa, beberapa anak mungkin menghadapi tantangan, kejadian traumatis, kesedihan, kehilangan, atau kesulitan yang memerlukan bantuan para profesional untuk membantu mereka sembuh dan kembali menemukan perjalanan ceria dan petualangan mereka. Terkadang anak tidak selalu bisa memasukkan perasaan mereka ke dalam kata-kata. Untuk menjangkau mereka, kita perlu mempelajari bahasa utama mereka yang merupakan bahasa bermain.

Anak merupakan individu yang membutuhkan topangan, sokongan dan perlindungan dari orang dewasa, keluarga, masyarakat, Pemerintah dan Negara. Perlindungan ini dibutuhkan oleh seorang anak karena adanya kesenjangan tingkat kematangan antara orang dewasa dengan anak, baik secara moral, kognitif, psikologis dan emosional.

Atas dasar ini, Perkumpulan Terapi Bermain Indonesia ( PTBI), organisasi nirlaba yang memiliki visi  mewujudkan praktek terbaik dalam terapi bermain di Indonesia, bekerja sama  dengan Play Therapy International  dan CAE  (Cipta Aliansi Edukasi)  mengadakan konferensi PTIC  (Play Therapy Indonesia Conference) dengan tema The Healing Power of Play di Hotel Borobudur Jakarta dari tanggal  11-13 November 2017.

Terapi bermain membantu anak-anak mengatasi emosi yang sulit. Ini membantu mereka merasa didengar dan dilihat. Hal ini sering bermanifestasi dalam perilaku dan performa yang membaik di sekolah atau pengurangan kecemasan dan kemarahan yang luar biasa. Melalui media yang digunakan, terapi bermain dapat memulihkan kondisi anak.

Selama 30 tahun terakhir Terapi Bermain, di bawah kepemimpinan Play Therapy International (PTI) dan afiliasinya Play Therapy United Kingdom, sebagai profesi yang diakui untuk mengurangi masalah emosional, perilaku, pembelajaran dan kesehatan mental anak-anak. Secara prakteknya terapi bermain di awasi oleh Professional Standard Authority (PSA), UK sebagai profesi di bidang kesehatan dan sosial.  Ini pertama kalinya di dunia dan menjadi preseden bagi semua negara yang lain termasuk Indonesia.

 

 

 

Play Therapy Indonesian Conference 2017

FLYER healing power of play final-page-001

The Healing Power of Play
Applying Therapeutic Play with Children throughout Different Cultures of the World

We are glad to inform the second Play Therapy Indonesian Conference (PTIC) under the auspices of PTUK/PTI from November 11th 2017. This is a great opportunity for all of us to come together, learn new play therapy skills, build networking, and support each other in our play therapy work to help the children in the world to maximize their potential.

We are honoured to welcome Monika Jephcott (President of Play Therapy International) and Jeff Thomas (Director of Academy of Play and Child Psychotherapy) as our keynote speakers in PTIC 2017. There will be workshops by our senior speakers from PTUK/PTI. It is our privilege to have them here in Indonesia.

Please plan your time to join and gather in our 2nd PTIC in Jakarta this coming November 11th, 2017 at Hotel Borobudur, Jakarta, Indonesia.
If you have further questions please contact me through email or Whatsapp.

Enjoy the Early Bird discount.
REGISTER for the EARLY BIRD before October 22nd, 2017.
Please click this link and fill in the form registration:  PTIC 2017 Form Registration
​​
I hope you will have a very rewarding time together.

Best wishes,

Yudi Hartanto
Committee of Play Therapy Indonesian Conference 2017
M: +628176028863
Email: yudiptindo@gmail.com

 

MoU Between KPAI & PTBI

On this day, Monday, August 27th , 2015, the undersigned parties below :

  1. H.M. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA, as the Chairman of Indonesian Child Protection Commitee, hereby acting for, and in the name of, INDONESIAN CHILD PROTECTION COMMITTEE, based in Jalan Teuku Umar No. 10-12, Menteng, Jakarta Pusat 10011, subsequently referred to as the FIRST PARTY.

 

  1. Alice Arianto, PGDip., MBA, as the Chairman of Indonesian Play Therapy Association, hereby acting for, and in the name of, and in the name of, INDONESIAN PLAY THERAPY ASSOCIATION, based in Gedung Menara Kuningan Unit F2, Jln. HR Rasuna Said Blok X-7 Kav 5, Jakarta Selatan 12940, subsequently referred to as the SECOND PARTY.

 

 

FIRST PARTY and SECOND PARTY, altogether referred to as BOTH PARTIES, mutually described the following points:

  1. A child is someone whose age is not yet 18, including a child developing in utero;
  2. Child Protection is all sorts of activities to guarantee and to protect the child and his/her rights to live, grow, develop, and excel optimally in accordance to the values of humanity, including protection from violence and/or discrimination;
  3. FIRST PARTY is an Independent State Institution sanctioned by State Bill No. 35 Year 2014 about Changes In State Bill No. 23 Year 2002 About Child Protection and intended to improve effectivity in Indonesia’s child protection service;
  4. SECOND PARTY is a Non-Profit Organisation which consecrates itself in handling and improving mental, emotional, behavioural, and social well-being with the means of play therapy to help children in Indonesia to attain their maximum potential.
  5. BOTH PARTIES are committed to actualize the best as possible for children’s interest through child protection program.

In accordance to the points described above, FIRST PARTY and SECOND PARTY hereby agreed to create a Memorandum of Understanding with terms as follows:

 

Article 1

Purpose and Intention

  1. The Intent of this Memorandum of Understanding is to provide a cornerstone for BOTH PARTIES in carrying out Child Protection;
  2. The purpose of this Memo of Understanding is the creation of joint effort and synergy between BOTH PARTIES in carrying out Child Protection.

 

Article 2

Coverage

This Memorandum of Understanding covers all necessary efforts for :

  1. Handling and Improving mental, emotional, behavioural, and social well-being by play therapy approach
  2. Expanding networks and partnership in child protection service

 

Article 3

Target

Target of this Memorandum of Understanding is :

  1. Organizers of child protection, including parents, family, society, and state.
  2. Children who fell victim to child right’s violations.
  3. All stakeholders of child protection in SECOND PARTY’s environment.

 

Article 4

Anticipation and Time Period

  1. This Memorandum of Understanding comes to effect within two years of its signing date until December 31st, 2017, and is subject to renewal with a new memorandum of understanding.
  2. The implementation of this cooperation will be regulated further and formalized in a Cooperation Agreement, which covers detailed procedures in the agreed fields of cooperation and other things necessary.
  3. Cooperation Agreement can only be implemented after being jointly signed by both parties.

 

Article 5

Others

In more spesific terms, if, in the future, the program carried out in this Memorandum of Understanding should result in matters unincluded in it, BOTH PARTIES are required to discuss such matters in a separated session in terms with valid laws/bills.

 

Thereby this Memorandum of Understanding is agreed and signed together by both parties in the day and date mentioned before, and copied in two with stamps, each with equal legal force.

 

FIRST PARTY

CHAIRMAN OF INDONESIAN CHILD PROTECTION COMITTEE

 

DR.H.M. ASRORUN NIAM SHOLEH,MA

SECOND PARTY

CHAIRMAN OF INDONESIAN PLAY THERAPY ASSOCIATION

 

Ir. ALICE ARIANTO, PGDip., MBA

Seminar ABK “Every Child Is Special”, Ubud, Bali

Bali, (30/9) Dalam rangka kampanye peduli ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), YIPABK bekerja sama dengan PEACE dan CAE mengadakan seminar ke beberapa kota yang ada di Indonesia. Seminar pertama bertajuk “Every Child Is Special” diadakan di kota Bali. Seminar diselenggarakan di salah satu sekolah swasta bernama The Spring yang berlokasi di Ubud.

Seminar bertajuk, “Every Child Is Special” dibawakan oleh Adi Nugroho, salah satu psikolog di bidang pendidikan. Menurut Adi masyarkat perlu tahu bahwa ada tahapan perkembangan yang akan dilewati manusia pada umumnya, yaitu kapan manusia akan belajar berjalan, berbicara, kapan manusia belajar mengenai gender, dan sebagainya (Age Appropriate). “Pada realitanya, banyak masyarakat yang sering salah dalam membantu anak-anak karena ketidakpahaman terhadap anak secara holistik sehingga salah dalam penanganannya atau tidak tepat sasaran. Terkadang sebagai guru jangan memiliki ekspetasi berlebih yang tidak sesuai dengan jenjang umurnya”, jelas Adi.

Disamping itu, Adi menambahkan, masyarakat juga harus aware terhadapa kultu-kultur yang ada (Culture Appropriate). Masing-masing memiliki kultur yang berbeda-beda sehingga dalam menangani anak sebagai pengajar perlu tahu penanganan apa yang tepat sesuai dengan latar belakang sang anak. Pada akhir seminar, Adi menjelaskan secara singkat tentang permasalahan yang kerap terjadi selama tahap tumbuh kembang anak, mulai dari permasalahan perilaku, emosi, belajar dan sosial, atau masalah yang kerap dikira memiliki “gangguan” atau “special”, dan memang anak yang memiliki kekhususan tertentu. Pada sesi ini tanya jawab berlangsung kurang lebih 45 menit dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan peserta. Peserta banyak yang sharing bagaimana kondisi sekolah mereka masing-masing, dan menanyakan hal-hal apa saja yang harus dilakukan, apakah harus ada penyesuaian dan perubahan kurikulum/sistem di sekolah dan sebagainya.

“Secara pribadi saya sangat terbantu dengan adanya seminar ini, karena jujur secara pribadi selama ini kami bingung harus seperti apa sehingga kerap menangani anak-anak seadanya karena minimnya pengetahuan penanganan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus”, ujar Veronica salah satu guru The Spring. “Saya akan mencoba untuk menyebarkan info ke sekolah-sekolah di daerah lain, dan juga mau mencoba men-approach pemerintah setempat untuk alokasi dana sehingga dapat mengadakan pelatihan ABK bagi masyarkat Bali. Terkait hal ini, sebenarnya pemerintah setempat punya alokasi dana untuk kegiatan-kegiatan di Bali seperti sosial, adat, atau pendidikan, tambah Veronica.

Seperti diketahui sekolah Bali, seperti Denpasar dan sekitarnya banyak memiliki anak-anak berkebutuhan khusus, namun sangat terbatas sumber daya manusia (guru, terapis, dsb). The Spring sendiri memiliki jumlah siswa kurang lebih 20 orang, di mana beberapa dari mereka memiliki kebutuhan khusus, seperti Asperger, gangguan belajar, dan lainnya.