BERMAIN mengawali Generasi Emas Indonesia yang Sehat, Cerdas dan Berkarakter

BERMAIN mengawali Generasi Emas Indonesia yang Sehat, Cerdas dan Berkarakter

 

Lima belas tahun yang lalu, ketika Ibu Alice Arianto mengetahui dan mempelajari ilmu yang baru, mengenai bermain dengan anak melalui “Play therapy” atau terapi bermain. Beliau mulai berani bermimpi untuk anak-anak di Indonesia agar bisa mengalami pertumbuhan yang sehat dan optimal melalui bermain. Beliau bertemu dengan Monika Jephcott dan Jeff Thomas dari Play Therapy United Kingdom (PTUK) dan Academy of Play and Child Psychotherapy (APAC) yang adalah founder dan CEO APAC, PTUK, dan PTI. Beliau menyampaikan keinginan agar bisa membawa “Play therapy” untuk membantu anak dan remaja di Indonesia, yang juga merupakan visi beliau untuk bisa membantu anak-anak di belahan manapun di dunia ini. Itulah awal dari perjalanan ini.

Bermain dan terapi bermain adalah hati dari kehidupan pribadi dan profesional beliau, baik dalam mengajarkan keilmuannya, melalui supervisi klinis, maupun melakukan “Special time” dengan klien anak-anak dan remaja yang saya bantu. Tentu saja ini adalah suatu perjalanan panjang yang membutuhkan iman, waktu, usaha, kerja keras untuk mempelajari, melatih diri, memiliki kompetensi, melakukan praktik, jam terbang secara klinis dalam terapi bermain, di bawah supervisi yang ketat secara internasional.

Sejak dimulainya angkatan pertama di tahun 2014, sampai saat ini sesudah sepuluh tahun, sudah ada angkatan ke-24. Saat ini terapi bermain sudah menjangkau 18 provinsi dan 46 kota di Indonesia. Adalah merupakan doa, visi, dan impian kami untuk bisa menjangkau lebih jauh ke 38 provinsi dari Sabang sampai Merauke, supaya makin banyak anak dan remaja yang bisa mendapatkan manfaat layanan, bantuan, dan intervensi untuk kesehatan mental, emosi, sosial, dan perilaku, sehingga visi Generasi Emas 2045 dapat tercapai.

Program pemerintah Indonesia salah satunya adalah menyiapkan Generasi Emas 2045 yaitu generasi muda Indonesia yang berkualitas, berkompeten, dan berdaya saing tinggi.  Kesehatan mental juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, salah satunya melalui program “Transformasi Kesehatan”.  Kesehatan Mental, emosi, sosial, dan perilaku anak serta remaja menjadi prioritas di dekade terakhir ini, terutama setelah kita semua dilanda oleh pandemi COVID-19. Kesehatan mental, emosional, sosial, dan perilaku menjadi prioritas dalam kerangka mewujudkan Generasi Emas Indonesia di 2045. Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, masalah kesehatan mental di Indonesia semakin meningkat, terutama setelah pandemi COVID-19. Perkembangan kesehatan mental anak-anak dan remaja di Indonesia menjadi perhatian serius, terutama dalam beberapa tahun terakhir.

Kami dari Politeknik Bentara Citra Bangsa (PBCB) bekerjasama dengan Play Therapy International (PTI), Play Therapy Indonesia (PTIndo), Perkumpulan Terapi Bermain Indonesia (PTBI) dan Cipta Aliansi Edukasi (CAE) berkolaborasi dalam peluncuran buku:

1. Terapi Bermain Indonesia – Pendekatan Non Direktif dan Integratif Holistik Pada Anak dan Remaja

2. Bunga Rampai Terapi Bermain Indonesia – Sekumpulan Kisah Transformasi, Pemulihan, dan Keajaiban

3. Parent-Child Playful Connection

4. Story Play – Story within us

dengan tema: BERMAIN mengawali Generasi Emas Indonesia yang Sehat, Cerdas dan Berkarakter.

Tempat :Auditorium Perpustakaan Nasional, Lantai 2. Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta.

Tanggal  : 13 Januari 2025

JamWaktu : 10.30-13.00

Pembicara setiap koordinator penulis:  dr. Lavinia, Amanda, Lily Ham dan Yuliyati

 

Visi kami adalah agar buku-buku ini bisa menjadi sumber literasi yang dapat memberikan edukasi dan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya bermain dan bagaimana peran terapi bermain non-direktif dalam membantu kesehatan emosi, mental, sosial, serta perilaku anak dan remaja.

Buku-buku ini dilengkapi dengan beragam contoh kasus yang dapat membantu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang pendekatan Terapi Bermain baik secara direktif maupun non-direktif.

Buku ini menawarkan pendekatan yang komprehensif, menggabungkan teori, praktik klinis, dan kisah nyata transformasi klien yang berhasil dibantu melalui Terapi Bermain.

Semua kontribusi, loyalitas dan komitmen yang telah dilakukan adalah salah satu upaya untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi anak-anak, yang merupakan masa depan kita.

Hadirnya buku-buku ini merupakan wujud komitmen kami untuk ikut berperan dalam mewujudkan “Indonesia untuk Generasi Emas” bersama pemerintah. Semoga dengan kehadiran buku ini dapat memberikan wawasan dan edukasi yang menyeluruh bagi kalangan profesional, akademisi maupun masyarakat luas.

 

 

Building Resilience Through Play

 

Building Resilience Through Play”

Ketangguhan mental atau resiliensi merupakan karakter yang harus ditumbuhkan di dalam diri individu agar dapat menghadapi situasi tekanan dalam bentuk apapun. Bagi anak dan remaja, resiliensi harus terus dibangun, agar kelak menjadi pribadi yang tangguh.

“Building Resilience Through Play” inilah yang menjadi tema dalam acara Play Therapy Indonesia Conference 2023. Acara yang berlangsung selama tiga hari, 10-12 November, dihadiri oleh para praktisi terapi bermain, psikolog, konselor, pendidik, dokter, dan beberapa profesi lain yang bekerja mendampingi anak dan remaja di Indonesia.   

Setelah lebih dua tahun kita mengalami dan melewati pandemi dengan segala pembatasan secara sosial dan fisik (social and physical distancing) serta ada yang kehilangan orang-orang terdekat, telah membawa trauma pada banyak individu. Isu ini menjadi topik menarik yang diangkat oleh Eileen Braham, MA (Accredited Play and Creative Art Therapist) sebagai keynote speaker dengan judul “Resilience – Therapists and Clients Recovering from the Trauma of the Pandemic”.

Konferensi ini dihadiri oleh Monika Jephcott (President Play Therapy International), Dr. Alice Arianto, Psy.D, CGP (Ketua Perkumpulan Terapi Bermain Indonesia dan Course Director Play Therapy Indonesia).  

Beberapa topik lain yang membahas resililensi menghadirkan pembicara-pembicara yang berpengalaman membantu anak dan remaja. Berbagai aktivitas bersama seperti creative movement, berbagi pengalaman, dan presentasi riset mewarnai kegiatan konferensi selama tiga hari di hotel Santika Premiere Bintaro, Tangerang Selatan.

Topik-topik workshop yang dibawakan oleh para pembicara adalah:

–  Infant Mental Health (attachment, neuroscience, child development)

–  Trauma and Burnout

–  SMILE with Parents: Quality of Life of Children matters

–  Exploring the Therapeutic Benefits of Clay

–   Working Therapeutically – Working with adolescents 10-13 years

–  SMILE Master Plan for Children’s Quality of Life: Family Resilience and Parental Involvement

–  Considering Our Clients through the Use of Art and Masks

–  Developing Resilience through Care of Self

 

Selain itu saat konferensi diadakan prosiding yang dipresentasikan oleh 13 panelis bekerjasama dengan Politeknik Bentara Citra Bangsa (PBCB) menambahkan body of knowledge untuk peserta yang hadir.

 

Layanan Play Therapy Pertama di Sekolah Dasar Negeri

Our greatest natural resource is the minds of our children. (Walt Disney)

Sekolah adalah tempat di mana anak belajar, bertumbuh, berkembang, dan mempersiapkan dirinya agar kelak dapat berkontribusi di masyarakat. Anak-anak akan menjadi generasi yang mewariskan segala tantangan yang terjadi dalam kehidupan pribadinya maupun kehidupan sosial di masyarakat.  

Sekolah tidak hanya berorientasi mengejar pencapaian akademik semata, tapi turut berperan dalam pembentukkan karakter individu anak. Di sekolah anak seharusnya mendapatkan ruang untuk mengembangkan karakter yang positif, meningkatkan kesadaran diri, penghargaan diri, dan kepercayaan diri. 

Kesejahteraan mental anak harus menjadi perhatian yang tak kalah pentingnya agar anak berkembang tidak hanya cakap secara intelejensi, namun memiliki karakter yang kuat dan sehat.  

Untuk mendukung adanya sekolah yang memperhatikan kesejahteraan mental anak ini, sejak tahun 2018, Cipta Aliansi Edukasi bekerja sama dengan Perkumpulan Terapi Bermain Indonesia (PTBI) membuka layanan terapi bermain (play therapy) di Sekolah Dasar Negeri 01 Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat. 

Saat itu dua orang praktisi play therapy memperkenalkan pentingnya membantu anak dengan masalah emosi, sosial, mental dan perilaku dengan pendekatan terapi bermain (play therapy). Mereka adalah dr. Srievi Veronica Siregar dan Grace, S.Psi yang ketika itu sedang mengambil program sertifikasi internasional menjadi praktisi play therapy. 

Mereka memulai praktek play therapy di SDN 01 Serdang dan menunjukkan pengabdian yang luar biasa sampai hari ini. Apa yang mereka lakukan memberikan pengaruh yang sangat positif kepada banyak anak-anak di sekolah tersebut sampai sekarang. 

Hari Kamis, 20 Juli 2023 lalu, tim dari Cipta Aliansi Edukasi (CAE) melakukan kunjungan ke SDN 01 Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat.  Kami disambut dengan hangat oleh Ibu Ida Handini sebagai Kepala Sekolah, Ibu Febriany Miala Sari sebagai Wakil Kepala Sekolah dan Ibu Tuti Widiastuti yang adalah guru di sana.  

Ibu Ida mengatakan play therapy membantu anak mengembangkan kemampuan psikomotorik, konsentrasi dan emosi secara holistik.  Beliau bersyukur dengan adanya layanan play therapy di sekolah, anak bahkan bisa menghadapi ketakutannya, bertanggung jawab dan bisa mandiri.  Beliau berharap kerja sama praktisi play therapy dan tim CAE dengan pihak sekolah terus dilanjutkan. 

Kami mendengar banyak kisah anak yang dibantu sudah jauh berubah dan lulus dari sekolah ini.  Orang tua yang awalnya ragu-ragu untuk anaknya mendapatkan layanan play therapy berubah menjadi sangat berterima kasih dengan adanya play therapy di sekolah.  Pihak sekolah menunjukkan kerjasama dan dukungan yang nyata sehingga layanan play therapy di sekolah bisa terwujud. 

Memang sudah seharusnya dunia pendidikan tak boleh berjarak dengan Kesehatan emosi mental anak.  Tugas pendidik juga memperhatikan kesehatan perkembangan mental dan emosi anak didik mereka, agar anak tidak hanya berhasil secara akademik, tapi juga cerdas dan sehat secara mental dan emosinya.

Kunjungan ini membuat kami terharu dan bangga melihat pengabdian yang tulus untuk peduli kepada sesama.  Kami percaya bahwa kontribusi dari semua pihak yang bekerjasama sehingga ada layanan play therapy di sekolah memberikan perasaan bahagia yang tak ternilai.     

Dunia Anak Itu Bermain

Dasar-Dasar Bermain bagi Anak

Apa Itu Bermain?

Bermain adalah berbagai aktivitas yang dilakukan untuk alasan rekreasi dan untuk meningkatkan rasa senang. Bermain hampir selalu diasosiasikan dengan anak-anak, tetapi jangan lupa bahwa tak hanya anak-anak yang bisa bermain. Orang dewasa juga bermain. Bahkan sangat dianjurkan bagi orang dewasa untuk meluangkan waktu bermain. Mungkin sebutan kerennya saat ini adalah sebagai metode self-care. Khusus untuk artikel ini, kami akan fokus pada kegiatan bermain yang dilakukan oleh anak-anak.

Pilihan bermain sangat luas. Ada permainan yang lebih menggunakan fisik seperti bermain bola, naik sepeda, atau jenis olahraga lainnya. Bisa juga lebih mengolah mental seperti membaca, bercerita, atau bermain drama. Bermain bisa dilakukan secara individu seperti melukis atau dilakukan bersama orang lain seperti catur atau sepak bola. Tidak ada jenis bermain yang lebih baik daripada yang lain. Kegiatan bermain individu dapat membangun kemandirian dan imajinasi seorang anak, sedangkan bermain dengan anak-anak lain dapat meningkatkan kemampuan anak bersosialisasi dan bekerja sama dengan orang lain.

Melalui bermain, seorang anak dapat menjelajahi bahasa, ide, hubungan sebab-akibat, emosi, imajinasi, serta interaksi sosial. Kita bisa mengambil contoh dari permainan yang menekankan imajinasi seperti bermain drama, membaca buku, atau bahkan bermain video game.

  • Kemampuan berbahasa: membaca buku dan bermain video game meningkatkan kosa kata anak, bermain drama meningkatkan pengucapan kata verbal.
  • Dengan membaca buku, seorang anak dapat mengenal dan memahami ide-ide baru.
  • Di dalam drama teater, keputusan seorang karakter akan mempengaruhi jalan cerita. Dengan mengambil peran drama, anak menjadi tahu bahwa di dunia ada hubungan sebab-akibat atau bahwa tindakan yang diambil seseorang memiliki konsekuensi.
  • Saat bermain video game, seorang anak bisa merasakan berbagai Frustasi dan sedih bila kalah, atau senang saat menang atau naik level. Asalkan diarahkan dengan baik, bermain video game memberikan anak suatu outlet untuk mengekspresikan perasaannya dan bahkan belajar meregulasi emosi.

Bermain dalam Konteks Dunia Modern

Sayangnya, tidak jarang bermain dianggap tidak produktif atau bahkan tidak penting di zaman sekarang. Ada banyak faktor yang memengaruhi kebebasan anak untuk bermain, di antaranya:

  • Lahan bermain outdoor yang sempit di perkotaan.
  • Orang tua yang sibuk bekerja. Kesibukan ini memotong waktu orang tua untuk bermain dan membangun ikatan erat dengan anak. Selain itu, orang tua kehilangan waktu untuk mengawasi dan mengarahkan anaknya bermain.
  • Kurikulum sekolah yang padat sejak usia dini sehingga anak harus mengikuti berbagai les dan pelajaran tambahan.

Akibatnya, kesempatan anak bermain semakin berkurang. Selain itu, kegiatan bermain yang praktis dan mudah dilakukan saat ini adalah games online dan melalui apps di gadget.

Online games dan video games bukan permainan yang negatif. Anak bisa belajar melalui online games, seperti bahasa baru. Bahkan beberapa contoh efek positif video games bagi imajinasi dan emosi telah didetail sebelumnya.

Bermain di internet dan gadget dapat menjadi bagian dari menu bermain yang sehat dan positif. Yang harus diperhatikan adalah bila porsi online game menjadi tidak seimbang atau sudah mendominasi menu keseluruhan. Online game bersifat pasif dan tidak memiliki interaksi nyata. Memang ada interaksi virtual, tapi tidak secara real-life. Bila menu bermain tidak seimbang dan tidak diberikan variasi, maka perkembangan anak pun tidak optimal. Misalnya, kemampuan anak berinteraksi dengan anak-anak lain dapat terpengaruh.

Padahal, bermain dengan interaksi nyata adalah kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Bahkan PBB menganggap bermain sebagai hak anak. Tertuang dalam Pasal 31 dari konvensi PBB tentang Hak Anak menyatakan bahwa setiap anak memiliki hak untuk “bersantai dan bermain, dan untuk bergabung dalam berbagai kegiatan budaya, seni, dan rekreasi lainnya” (Unicef 2014).

Manfaat Bermain

Singkatnya, bermain sangat penting bagi perkembangan anak karena merangsang otaknya serta membuat anak merasakan emosi yang positif.

Melalui bermain, anak-anak terlatih untuk mengekspresikan perasaan dan kebutuhan mereka. Saat masih muda, anak belum bisa mengungkapkan kebutuhan mereka secara jelas. Bermain melatih anak untuk menggunakan indera mereka untuk memahami dunia sekitarnya. Dari titik itu, anak pun belajar untuk memisahkan dirinya dari orang lain karena ia menyadari bahwa ia berbeda dengan orang lain (dalam suatu pertandingan olahraga misalnya). Anak-anak pun akan mengerti melalui bermain bahwa di dunia ini, ada aspek yang dapat mereka kontrol dan ada aspek yang tidak bisa dikontrol. Selain belajar untuk bekerja sama dengan orang lain atau bertanding secara sportif, bermain dapat membantu anak membangun self-awareness.

Self-awareness sangat penting untuk dibangun seorang anak sejak dini sebab dari mengenal apa yang ia sukai dan ia inginkan, ia akan mengenal dirinya sendiri dan dapat mengekspresikan kebutuhannya serta berkomunikasi secara lancar. Dari tahap ini, seorang anak dapat terus membangun identitasnya sebagai individu yang unik. Bila outlet yang dimiliki anak untuk mengekspresikan dirinya tepat, di antaranya lewat bermain, maka sejak usia muda sang anak terbiasa membangun kepercayaan diri untuk menjadi orang dewasa yang sehat.

Terlebih lagi bagi anak-anak yang introvert, bermain sangat penting. Bila sehari-hari mereka kesulitan untuk berkomunikasi, maka outlet dan permainan yang tepat akan membantu mereka mengungkapkan perasaan mereka atau kesulitan yang mereka hadapi.

Saat anak mengekspresikan diri, ia dapat mengutarakan kekhawatiran dan permasalahannya kepada orang dewasa di sekitarnya. Selain memberikan informasi yang dapat membantu orang tua mengarahkan anak, waktu bermain juga mengembangkan problem-solving skills. Setelah mengekspresikan kesulitan dan mengenal dirinya, anak dapat belajar untuk memikirkan solusi bagi masalah yang ia hadapi.

Sebenarnya, kegiatan bermain simbolis untuk penyelesaian masalah. Memenangkan suatu pertandingan olahraga atau menciptakan ending cerita yang tepat adalah contoh problem solving di usia dini, bukan?

Karena itu, medium dan waktu bermain adalah kebutuhan anak yang harus diprioritaskan. Seorang anak yang memiliki kebebasan bermain yang positif akan merasa aman dan diterima oleh lingkungan sekitarnya.

Jadi, bermain seperti apa yang dibutuhkan anak? Bagaimana cara mengarahkan anak untuk bermain?

Bermain tidak hanya melibatkan mainan, tetapi melibatkan ekspresi, kreativitas, dan imajinasi. Dalam konteks ini, bermain bukan les tambahan ataupun aktivitas yang dipilih orang tua. Tentu saja, orang tua dapat menganjurkan dan mendaftarkan anak untuk les piano, belajar bahasa baru, atau ikut tim olahraga. Tetapi di samping itu, anak perlu memiliki waktu bermain yang:

  1. Spontan atau bebas
  2. Secara mandiri dipilih oleh anak

Bermain yang sesuai dengan parameter di atas adalah cara alami bagi seorang anak untuk berkomunikasi. Pertama, ia pasti memilih medium bermain yang cocok dengannya atau yang paling ia sukai. Dari pilihannya, ia sudah mengungkapkan sesuatu tentang dirinya. Kedua, saat bermain dengan bebas, anak merasa lebih bahagia dan lebih santai. Saat ini adalah waktu yang tepat bagi orang tua untuk mempererat hubungan dengan anak.

Anak yang merasa santai saat bermain akan merasa lebih bebas untuk mengungkapkan observasi, imajinasi, dan emosinya. Biarkan dia mengekspresi diri. Cobalah untuk tidak mengoreksi ide-idenya kecuali perlu.

Bila memiliki outlet bermain yang spontan, aman, dan bebas, seorang anak merasa didengarkan, dimengerti, dan diterima oleh lingkungan sekitarnya. Anak tidak akan menutup ekspresi alami mereka dan tidak terpengaruh faktor eksternal. Karena itu, bermain harus dilakukan secara bebas dan spontan.

Kesimpulan:

  1. Play atau bermain sangat penting dan tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang tidak produktif. Bermain adalah kebutuhan anak yang perlu diprioritaskan.
  2. Bermain merangsang otak dan menciptakan emosi yang positif bagi anak. Dengan bermain, anak melatih kemampuan berbahasa, mengeksplorasi ide dan hubungan sebab akibat, eksplorasi emosi dan imajinasi, serta melatih interaksi sosial.
  3. Sedangkan di jangka panjang, bermain membangun kemampuan mengekspresi diri, self-awareness dan kesadaran akan lingkungan sekitar, serta membangun problem-solving skills. Karena itu, play atau bermain adalah tool yang penting dalam perkembangan anak menjadi orang dewasa yang sehat.
  4. Di dunia modern, orang tua sering khawatir akan efek penggunaan gadget bagi anak-anak. Apakah bermain dengan gadget termasuk bermain yang sehat? Selama bermain dengan gadget seimbang dengan jenis permainan lain dan game yang dimainkan anak sesuai dengan usianya, maka online game pun bisa memiliki dampak positif.
  5. Bermain yang dimaksud dalam konteks artikel ini bersifat (a) spontan atau bebas, dan (b) secara mandiri dipilih oleh anak. Dengan waktu bermain yang bebas, anak akan merasa aman dan lebih leluasa mengekspresikan diri sendiri.

Anak-anak yang mengalami permasalahan emosi maupun perilaku seperti tidak percaya diri, sering marah, sulit menurut, atau menjadi korban/pelaku bullying dapat dibantu melalui bermain. Licensed play therapy atau terapi bermain dapat membantu meningkatkan kesehatan emosi anak. Di artikel selanjutnya, kami akan membicarakan tentang play therapy, metode, dan manfaatnya.

Sumber artikel dari:  www.cae-indonesia.com